Oleh: Rama Cristo, S-33.
________________________________________
Prefasi:
Never trust words. Some people have sugar on their lips, but venom in their hearts (unknown).
ABSTRAK
Introduksi: Ramos Horta, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Timor Leste, dikenal dengan perjuangannya yang gigih menentang pendudukan Indonesia melalui lobi-lobi internasional. Setelah kemerdekaan, Timor Leste menghadapi berbagai tantangan, salah satunya dalam sektor kesehatan. Salah satu langkah pragmatis yang diambil oleh Ramos Horta adalah merujuk pasien Timor Leste ke Atambua, Indonesia, sebagai respons terhadap krisis layanan kesehatan yang dihadapi Timor Leste saat ini.
Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji usulan pragmatis Ramos Horta dalam merujuk pasien Timor Leste ke Atambua dengan mempertimbangkan perspektif pragmatisme dalam pengambilan keputusan politik.
Metode: Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis sumber-sumber terkait perjuangan Ramos Horta, transisi pemikirannya, serta kondisi kesehatan di Timor Leste pasca kemerdekaan. Referensi diambil dari artikel, buku, serta laporan yang relevan.
Diskusi: Ramos Horta memulai perjuangannya sejak 1975 dan terus berkiprah hingga terpilih kembali sebagai Presiden Timor Leste pada 2022. Dalam menghadapi permasalahan kesehatan yang saat ini kolaps, usulannya untuk merujuk pasien ke Atambua merupakan bentuk pragmatisme yang muncul setelah banyak upaya idealis gagal membuahkan hasil yang diinginkan.
Hasil: Penerimaan terhadap keputusan ini tidak hanya sebagai langkah praktis dalam mengatasi masalah kesehatan, tetapi juga mencerminkan perubahan besar dalam pola pikir politik Ramos Horta dari idelaisme ke pragmatisme untuk menyesuaikan diri dengan realitas negara kecil Timor Leste yang menghadapi banyak tantangan.
Kata kunci: Ramos Horta, pasien, Timor Leste, Atambua, Agustu Comte, berpikir positif.
________________________________________
Bagian 1: PENDAHULUAN
=======================
Latar Belakang
==============
Ramos Horta adalah sosok yang tak bisa dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Timor Leste. Sejak 1975, Ramos Horta telah mengambil peran penting dalam perjuangan internasional untuk kemerdekaan. Pada masa pendudukan Indonesia, Horta berkeliling dunia melakukan lobi-lobi kepada negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa dan organisasi internasional untuk menggalang dukungan bagi kemerdekaan Timor Leste. Perjuangan ini mencapai puncaknya ketika Timor Leste akhirnya meraih kemerdekaan pada tahun 2002 setelah melalui perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan.
Setelah kemerdekaan, Ramos Horta memegang posisi penting dalam pemerintahan, menjadi Menteri Luar Negeri pada periode awal kemerdekaan. Pada 2006, situasi politik dan sosial Timor Leste terguncang dengan krisis yang berbau primordialisme antara kelompok Lorosae dan Loromonu, yang mengarah pada desersi besar-besaran dari Angkatan Pertahanan Timor Leste. Krisis ini mencapai puncaknya ketika terjadi upaya pembunuhan terhadap Ramos Horta pada 11 Februari 2008, yang mengguncang seluruh bangsa Timor Leste. Saat itu Ramos Horta tertembak dan harus diterbangkan ke Royal Hospital Australia untuk mendapatkan perawatan, sementara Mayor Alfredo bersama pengawalnya harus gugur.
Meski begitu, Horta tetap bertahan dan terus berjuang untuk kemajuan Timor Leste. Pada 2022, Pemenang Nobel Perdamaian 1996 ini terpilih kembali sebagai Presiden Timor Leste untuk kedua kalinya, membawa semangat baru untuk menuntaskan berbagai permasalahan yang masih membelit negara muda ini.
Setelah kemerdekaan, Timor Leste menghadapi berbagai tantangan besar, salah satunya adalah sektor kesehatan. Sebagai negara dengan anggaran terbatas dan infrastruktur yang belum berkembang dengan baik, Timor Leste kesulitan dalam menyediakan layanan kesehatan yang memadai bagi rakyatnya. Masalah ini semakin parah dengan kurangnya fasilitas medis dan tenaga kesehatan yang terlatih. Dan terlebih lagi diperburuk dengan tingkat korupsi yang masif di Timor Leste yang melibatkan tokoh-tokoh kemerdekaan sekelas Xanana Gusmão.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Ramos Horta kemudian mengambil keputusan yang sangat mengejutkan namun cukup pragmatis untuk merujuk pasien Timor Leste ke Atambua, Indonesia. Keputusan ini tidak muncul secara tiba-tiba setelah kunjungan khusus Horta ke Rumah Sakit Gabriel Manek di Atambua baru-baru ini, namun lebih merupakan bentuk pergeseran dalam pola pikir seorang Ramos Horta. Dulu, Horta dikenal sebagai pemimpin yang lebih mengutamakan idealisme, tetapi realitas yang dihadapi Timor Leste pasca-kemerdekaan, terutama kolpasnya kesehatan nasional saat ini, memaksa Horta untuk mengubah pendekatannya. Keputusan tersebut menunjukkan titik tolak dari idealisme menuju pragmatisme, dengan menyadari sepenuhnya bahwa negara yang relatif baru merdeka ini tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dalam waktu singkat.
Pemikiran pragmatis Horta untuk merujuk pasien ke Atambua menunjukkan sebuah transisi besar dalam pemikirannya. Di satu sisi, ini adalah langkah praktis dalam menghadapi keterbatasan sumber daya, tetapi di sisi lain, ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi antar negara dalam dunia yang semakin terhubung ini, dengan mengabaikan gengsi sebagai tokoh, sebagai negarawan, dan sebagai pejuang kemerdekaan Timor Leste yang pernah menentang keras pendudukan Indonesia atas Timor Leste selama 24 tahun.
Tetapi ada pertanyaan yang perlu direnungkan; “Kenapa sebagai Presiden, Ramos Horta tidak berusaha menggerakkan segala sumber daya yang ada untuk memperbaiki sarana dan prasarana kesehatan Timor Leste agar lebih mandiri, dari pada merujuk pasien ke Atambua yang tentunya, bukan hanya tidak gratis, tetapi juga akan memakan beaya yang besar?”
Bagian 2: DISKUSI DAN PEMBAHASAN
=================================
Keputusan Ramos Horta untuk merujuk pasien Timor Leste ke Atambua, Indonesia, adalah langkah pragmatis yang mencerminkan perubahan cara berpikirnya. Untuk memahami keputusan tersebut, kita harus menggali lebih dalam mengenai latar belakang politik, sosial, dan ekonomi yang dihadapi Timor Leste pasca kemerdekaan. Dalam hal ini, pengaruh pemikiran pragmatisme dalam kepemimpinan Ramos Horta sangat penting untuk dipahami, mengingat perjuangannya yang berakar pada prinsip-prinsip idealisme yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste.
2.1.Perjalanan Politik dan Perjuangan Horta
=====================================
Ramos Horta bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga simbol perjuangan internasional Timor Leste untuk meraih kemerdekaan. Dalam perjalanannya, Horta dikenal dengan keberhasilannya melakukan lobi internasional, termasuk melalui pidato-pidato yang menggugah negara-negara besar dan organisasi internasional untuk mendukung Timor Leste dalam menghadapi pendudukan Indonesia. Pada masa itu, idealisme Horta tentang hak Timor Leste untuk merdeka sangat menonjol, dan ia berfokus pada pencapaian kemerdekaan melalui jalur diplomasi.
Namun, setelah Timor Leste merdeka pada 2002, Horta dan pemerintahannya menghadapi tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan dengan retorika atau lobi internasional semata. Di luar masalah politik, negara yang baru merdeka ini terperangkap dalam keterbatasan anggaran, ketergantungan pada bantuan internasional, serta infrastruktur yang belum berkembang dengan baik. Permasalahan ini menjadi semakin jelas pada sektor-sektor penting seperti kesehatan dan pendidikan.
2.2.Krisis Kesehatan Timor Leste
============================
Setelah kemerdekaan, sektor kesehatan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Timor Leste. Mengingat bahwa negara ini masih sangat muda dan miskin sumber daya, sistem kesehatan yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar warganya. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang ada terbatas dalam jumlah dan kualitas. Selain itu, kurangnya tenaga medis terlatih juga menjadi masalah serius yang semakin memperburuk keadaan. Banyak warga Timor Leste yang tidak bisa mendapatkan perawatan medis yang memadai di dalam negeri, sehingga mereka terpaksa mencari pengobatan di luar negeri.
Meskipun pemerintah Timor Leste berusaha untuk memperbaiki kondisi ini dengan bantuan internasional dan upaya pembangunan domestik, perubahan besar dalam sistem kesehatan tidak dapat tercapai dalam waktu singkat. Oleh karena itu, keputusan Ramos Horta untuk merujuk pasien ke Atambua, Indonesia, dapat dilihat sebagai langkah pragmatis yang mempertimbangkan keterbatasan sumber daya nasional Timor Leste, serta kebutuhan mendesak untuk menyediakan perawatan medis bagi rakyatnya.
2.3.Pragmatisme Dalam Kepemimpinan Ramos Horta
====================================
Ramos Horta dikenal sebagai sosok yang sangat idealis dalam perjuangannya untuk kemerdekaan Timor Leste. Selama bertahun-tahun, ia memperjuangkan keadilan bagi rakyat Timor Leste melalui pendekatan diplomatik, dengan mengedepankan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Namun, sejak Timor Leste merdeka, Horta mulai menyadari bahwa untuk mengatasi berbagai masalah domestik, terutama dalam sektor kesehatan, diperlukan pendekatan yang lebih realistis dan pragmatis.
Keputusan untuk merujuk pasien ke Atambua bukanlah keputusan yang mudah, mengingat sensitivitas hubungan antara Timor Leste dan Indonesia pasca-pendudukan. Tetapi, Horta memahami bahwa realitas yang dihadapi oleh Timor Leste memerlukan kerjasama praktis dengan negara tetangga, yang memiliki infrastruktur dan tenaga medis yang lebih maju. Ini adalah contoh nyata dari pergeseran Horta dari idealisme menuju pragmatisme—dari mengutamakan prinsip-prinsip kemerdekaan dan kedaulatan menuju solusi praktis yang dapat memberikan manfaat langsung bagi rakyat Timor Leste.
2.4.Pengaruh Krisis Sosial dan Ekonomi Terhadap Keputusan
=========================================
Salah satu faktor yang mendorong Horta untuk berpikir pragmatis adalah krisis sosial dan ekonomi yang melanda Timor Leste pasca-kemerdekaan. Krisis 2006 yang berakar pada konflik primordialisme antara kelompok Lorosae dan Loromonu, serta desersi besar-besaran dari Angkatan Pertahanan Timor Leste, menunjukkan adanya ketegangan internal yang mengganggu stabilitas politik. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, sektor-sektor vital seperti kesehatan harus segera ditangani untuk menjaga kesejahteraan masyarakat.
Pada saat yang sama, dengan jumlah angkatan medis yang terbatas dan infrastruktur kesehatan yang belum memadai, pemerintah Timor Leste tidak dapat menyediakan layanan kesehatan yang cukup bagi seluruh warganya. Dengan demikian, pragmatisme Horta terlihat dalam pengambilan keputusan untuk bekerja sama dengan Indonesia, sebuah negara yang memiliki fasilitas medis yang lebih baik dan dapat membantu mengurangi beban sistem kesehatan Timor Leste.
2.5.Implikasi Hubungan Indonesia-Timor Leste
=======================================
Keputusan untuk merujuk pasien ke Atambua juga memperlihatkan dinamika hubungan Timor Leste dan Indonesia pasca-perpisahan. Meskipun hubungan kedua negara pernah dilanda ketegangan karena masa pendudukan Indonesia di Timor Leste, kini kedua negara memiliki hubungan yang semakin baik dalam berbagai bidang, termasuk di bidang kesehatan. Dalam hal ini, merujuk pasien ke Atambua bukan hanya sekadar keputusan medis, tetapi juga langkah diplomatik yang menunjukkan bahwa Timor Leste mengakui pentingnya hubungan bilateral dengan negara tetangga.
Sebagai negara yang baru merdeka, Timor Leste membutuhkan dukungan dari Indonesia untuk memperkuat kapasitas sektor-sektor kritis seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Keputusan ini, meskipun pragmatis, juga menunjukkan bahwa negara kecil seperti Timor Leste perlu membangun kemitraan dengan negara-negara yang memiliki sumber daya lebih besar untuk bertahan dan berkembang di dunia yang semakin saling terhubung.
2.6.Penerimaan Terhadap Pendekatan Pragmatis Horta
=========================================
Secara umum, keputusan untuk merujuk pasien ke Atambua ini mendapat berbagai respons. Beberapa pihak melihat langkah ini sebagai bentuk pengakuan terhadap ketergantungan Timor Leste pada negara tetangga, sementara yang lain melihatnya sebagai keputusan yang perlu diambil demi kepentingan rakyat. Di sisi lain, ada yang mengkritik langkah ini karena dianggap sebagai langkah mundur bagi negara yang baru merdeka. Namun, dari perspektif pragmatis, langkah ini bisa dipandang sebagai keputusan yang realistis untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat Timor Leste, dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya domestik.
2.7.Kritik Terhadap Idealisme dan Pragmatisme
========================================
Pada akhirnya, transisi dari idealisme menuju pragmatisme yang dilakukan oleh Ramos Horta bukan hanya sebagai respon terhadap kondisi domestik, tetapi juga sebagai upaya untuk menyelamatkan negara dari kesulitan yang lebih besar. Keputusan ini mencerminkan kenyataan bahwa, meskipun sebuah negara merdeka memiliki kedaulatan politik, dalam dunia global saat ini, negara-negara harus bisa beradaptasi dan bekerja sama dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, terutama dalam bidang kesehatan yang sangat vital.
________________________________________
2.8.Perbandingan Pemikiran Ramos Horta dengan Teori Aguste Comte: Pragmatismenya dalam Konteks Kegunaan
========================================
Dalam menganalisis keputusan pragmatis Ramos Horta untuk merujuk pasien Timor Leste ke Atambua, kita bisa menarik paralel dengan teori sosial dari Aguste Comte, seorang filsuf asal Perancis yang dikenal sebagai pendiri aliran Positivisme. Comte menekankan pentingnya berpikir berdasarkan kegunaan praktis dan ilmu pengetahuan sebagai landasan untuk memahami dan mengatasi tantangan kehidupan sosial dan politik. Ini bisa dilihat sebagai kontradiksi dengan idealisme yang sebelumnya sering dijunjung tinggi oleh Ramos Horta, terutama dalam perjuangan panjangnya untuk kemerdekaan Timor Leste. Keputusan pragmatis Horta—merujuk pasien ke luar negeri, khususnya ke Atambua—bisa dipahami sebagai respons yang sangat sesuai dengan prinsip-prinsip teori positivisme Comte yang mengedepankan kenyataan dan kegunaan praktis daripada ide-ide idealis yang sering kali tidak realistis.
2.9.Kegunaan Praktis vs. Idealisme
==============================
Aguste Comte mengajukan bahwa teori-teori sosial harus didasarkan pada bukti nyata dan kegunaan praktis, bukan pada spekulasi atau konsep-konsep idealis yang terlepas dari kenyataan. Bagi Comte, kemajuan masyarakat bergantung pada penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan rasional, serta orientasi pada solusi praktis yang memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan sosial. Dalam konteks ini, kegunaan menjadi inti dari setiap keputusan yang diambil. Comte berargumen bahwa idealisme, jika tidak berakar pada kenyataan, dapat mengarah pada ketidakpastian dan ketidakbergunaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ramos Horta, pada awalnya, menganut prinsip-prinsip idealisme yang berfokus pada visi kemerdekaan penuh, kedaulatan nasional, dan pembangunan Timor Leste yang mandiri tanpa bergantung pada negara lain, terutama Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, dan setelah melihat dengan lebih jelas tantangan-tantangan domestik yang dihadapi Timor Leste—terutama di sektor kesehatan—Horta mulai menggeser cara berpikirnya. Pada titik inilah kita dapat melihat keselarasan dengan pemikiran Aguste Comte. Horta menyadari bahwa idealisme tentang kemandirian total dapat menghambat kemajuan nyata bagi rakyat Timor Leste, khususnya dalam hal kesehatan. Oleh karena itu, dia mengambil langkah pragmatis untuk merujuk pasien ke Atambua, sebuah solusi yang lebih terfokus pada kegunaan praktis daripada idealisme semata.
2.10.Pragmatisme Horta: Pemikiran Positif Tentang Kesejahteraan
====================================
Keputusan Horta untuk mengarahkan pasien Timor Leste ke rumah sakit di Atambua, Indonesia, adalah langkah yang menggambarkan penerapan prinsip-prinsip positif dan pragmatisme dalam kepemimpinannya. Keputusan ini mengutamakan hasil yang nyata—yaitu, penyediaan layanan kesehatan yang lebih baik untuk rakyat Timor Leste, meskipun itu berarti harus bekerja sama dengan negara yang pernah menjadi bagian dari sejarah politik yang penuh ketegangan. Di sini, kita bisa melihat perbedaan mendalam antara idealisme sebelumnya yang mengutamakan kemandirian penuh dan pragmatisme yang lebih mengutamakan solusi yang berguna, efektif, dan praktis untuk mengatasi kebutuhan mendesak.
Sama seperti yang disarankan Comte, yang mengedepankan gagasan bahwa masyarakat harus ditata dan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang memberi manfaat langsung bagi kehidupan sosial, langkah Horta menunjukkan kesadaran akan pentingnya “kegunaan sosial” daripada hanya mengutamakan cita-cita atau prinsip yang idealistis. Dalam konteks ini, kegunaan bagi Horta adalah memberikan perawatan medis yang memadai kepada warganya, yang lebih penting daripada mempertahankan kebanggaan semata-mata tentang kemandirian politik dalam menghadapi krisis kesehatan yang melanda.
2.11.Pragmatismenya Horta dalam Perspektif Positivisme
======================================
Positivisme Aguste Comte juga menekankan pentingnya pemahaman sosial yang didasarkan pada observasi empiris dan kebutuhan praktis, serta pemecahan masalah dengan pendekatan ilmiah dan rasional. Dalam hal ini, Horta mengadopsi suatu pendekatan yang mirip dengan metode ilmiah dalam pengambilan keputusan. Ia melihat bahwa sumber daya dan kapasitas Timor Leste dalam hal kesehatan sangat terbatas, sementara Indonesia, sebagai negara tetangga, memiliki fasilitas medis yang lebih baik.
Sebagai pemimpin, Horta akhirnya memilih untuk lebih mendengarkan realitas ini dan mencari solusi yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang, bukannya terpaku pada prinsip-prinsip idealis yang bisa berisiko dalam situasi darurat.
Horta, pada akhirnya, menyadari bahwa menghadirkan solusi medis yang dapat segera dinikmati oleh rakyatnya lebih penting daripada mempertahankan kemandirian total dalam sektor kesehatan, yang pada kenyataannya tidak dapat dicapai dalam waktu singkat.
Keputusan untuk bekerja sama dengan Indonesia, dalam hal ini, adalah penerapan prinsip positivisme—yang bertujuan untuk mengatasi masalah praktis dan memberikan hasil nyata dalam kehidupan masyarakat, sesuai dengan pendekatan ilmiah dan rasional yang ditekankan Comte.
2.12.Pragmatisme Sebagai Penghormatan terhadap Kenyataan
====================================
Ramos Horta yang sebelumnya dikenal sebagai pejuang idealis kini menunjukkan kedewasaan dalam kepemimpinan. Keputusan pragmatisnya, yang berfokus pada kebutuhan rakyat untuk mendapatkan perawatan medis yang cepat dan tepat, mencerminkan kesediaannya untuk menghadapi kenyataan dan mengutamakan solusi yang berguna. Inilah yang menjadi ciri khas pemikiran Aguste Comte: menekankan solusi praktis berdasarkan observasi sosial yang nyata, bukan sekadar gagasan idealis yang tidak mengarah pada hasil yang konkret.
Dengan demikian, keputusan Horta untuk merujuk pasien ke Atambua bukan hanya sebuah langkah medis, tetapi juga langkah politik dan sosial yang didasarkan pada prinsip positivisme. Sebagai pemimpin, Horta memilih untuk bergerak maju dengan pragmatisme, menerima kenyataan bahwa dalam menghadapi tantangan besar seperti krisis kesehatan, kegunaan dan hasil yang nyata jauh lebih bernilai daripada mempertahankan idealisme semata. Pemikiran ini mencerminkan suatu perkembangan dalam diri Horta, dari seorang idealis revolusioner menjadi pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan praktis rakyatnya.
________________________________________
Bagian 3: PENUTUP: Resume & Saran + Rekomendasi
===============================
3.1.Resume:
===========
Keputusan pragmatis Horta dalam merujuk pasien ke Atambua sejalan dengan prinsip-prinsip positivisme Aguste Comte yang menekankan kegunaan dan manfaat langsung bagi masyarakat. Keputusan ini bukan hanya sebuah respons terhadap situasi kesehatan Timor Leste yang lagi kolaps berat, tetapi juga sebagai refleksi dari kesadaran Horta akan pentingnya solusi nyata yang dapat memberikan hasil positif bagi kehidupan rakyat Timor Leste, tanpa terjebak pada idealisme semata. Apalagi mempertahankan kebanggan semu tanpa makna.
3.2.Saran & Rekomendasi:
======================
Saran:
======
Saya ingatkan; bagi pembaca yang anti Indoneia jangan membaca saean dan rekomendasi saya.
3.2.1. Disarankan kepada rakyat Timor Leste untuk merenung. Sehebat-hebatnya kita membanggakan nama Timor Leste, kita, saya dan kalian, bukan siapa-siapa dibandingkan dengan Xanana Gusmão dan Ramos Horta yang pada jaman perjuangan fisik, paling keras menentang pendudukan Indonesia atas Timor-Timur. Melalui politik agitasi mereka, ribuan generasi muda telah tewas. Mereka akan senang sekali, karena semakin banyak yang tewas, akan semakin menarik perhatian dunia internasional. Dan setelah berpisah dengan Indonesia (saya tidak menggunakan terminologi: merdeka dari Indonesia), seuntung-untungnya kita, sebahagia-bahagianya kita, kita tidak pernah mencapai level yang pernah dicapai oleh Ramos Horta dan Xanana Gusmão, terutama pasca kemerdekaa. Mereka menikmati banyak hal baik dalam hidup mereka dengan “mengeksploitasi” rakyat Timor Leste yang polos dan lugu. Mereka telah pernah menjadi menteri, menjadi presiden, menjadi perdana menteri, mengeruk seluruh kekayaan Timor Leste, menikmati status sosial yang tinggi, melalang-buana ke berbagai negara di dunia, tetapi ujung-ujungnya, setelah mereka tahu bahwa Timor Leste tidak mungkin lagi bisa diselamatkan, mereka dengan gampangnya, menyerahkan kembali Timor-Timur ke pangkuan Ibu Pertiwi dengan dalih; merujuk pasien ke Atambua, karena jaraknya dekat dan beayanya murah, meskipun mereka sejatinya tahu persis, standar Rumah Sakit Atambua.
3.2.2. Para orang tua yang menguasai bahasa Indonesia, jangan malu ajarkan bahasa Indonesia kepada anak cucu Anda. Karena siapa tahu, keputusan dua tokoh pejuang kemerdekaan Timor Leste, Ramos Horta dan Xanana Gusmão, untuk merujuk pasien ke Atambua melambangkan simbol pesan dari alam semesta bahwa, cepat atau lambat, Timor-Timur akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi tercinta. Ketika kekayaan Timor Gap habis, ketika Gretear Sunrise kering, ketika rakyat Timor Leste tidak berdaya dan berada dalam kondisi yang bukan hanya memilukan, tapi juga memalukan, mungkinkah bangsa Portugis akan tetap tersenyum manis kepada anak cucu Timor Leste? Ataukah Portugis akan berbalik belakang meninggalkan Timor Leste untuk kemudian kembali kepada posisi awal mereka di tahun 1975 bahwa pilihan yang paling realisitis bagi rakyat Timor Portugs adalah integrasi dengan Indonesia. Kalau tidak percaya, tanyakanlah kepada Amu (dispensadu) Martinho Gusmão. Benarkah bahwa pada tahun 1975 orang Portugis memiliki sudut pandang seperti itu?
3.2.3. Jika ada di antara kalian yang menentang dua saran saya di atas, pertanyaan saya adalah; “Berapa lama lagikah kalian yang menentang saran saya akan bertahan hidup di dunia fana ini?“ Apakah kalian berpikir bahwa generasi penerus Timor Leste yang hidup pada 50 atau 100 tahun mendatang akan memiliki pola pikir yang sama dengan pola pikir kita saat ini, sementara mereka tidak mengalami secara langsung perjuangan kemerdekaan Timor Leste yang berdarah-darah? Ingat baik-baik. Yang namanya perspektif, sudut pandang dan polarisasi pemikiran manusia selalu dibentuk oleh keadaan eksternal. Tetapi bukan sebaliknya. Dan jangan lupa: tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.
Rekomendasi:
============
3.2.4. Jika saya adalah Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yang pernah terlibat dalam sejarah Timor-Timur yang berdarah-darah, saya akan membuat dua kebijakan penting yang memiliki efek dan nilai futuristis, yaitu: Kebijakan Pertama: Membangun Rumah Sakit bertaraf internasional (A+++) di perbatasan Atambua - Timor Leste, untuk mengantisipasi perubahan dramatis hubungan Indoensia -Timor Leste di masa depan. Kisruh yang saat ini terjadi di Timor Leste gara-gara ide merujuk pasien ke Atambua yang dilontarkan Ramos Horta dan Xanana Gusmão ke publik, bukan semata-mata karena Atambua-nya, melainkan karena status Rumah Sakit Gabriel Manek yang hanya berstatus tipe C. Coba kalau Indonesia membangun satu Rumah Sakit bertaraf internasional (tipe A plus plus plus) di Atambua, apakah kisruh ini masih akan tetap terjadi? Jika Rumah Sakit tipe A plus plus dibangun di Atambua, maka Timor Leste tidak akan pernah lagi merujuk pasien ke Malaysia atau Singapura. Melainkan akan merujuk ke Atambua. Kebijakan Kedua: Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, menyediakan beasiswa dalam skala besar untuk generasi muda Timor Leste guna melanjutkan studi mereka di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dan lihatlah, apa yang akan terjadi pada 10, 20, 30, 40, 50 tahun mendatang, di saat-saat Timor Leste memasuki masa-masa transisi paling memilukan dan memalukan, saat Ramos Horta dan Xanana Gusmão sudah berada di alam baka. Jika Presiden Prabowo mempertimbangkan rekomendadi saya di atas, maka hipothesa saya adalah; “Di masa depan, ketika “Revolusi Kuning” tiba, ketika konstelasi politik gobal telah jauh berubah, ketika konfigurasi-konfigurasi baru bermunculan dan menghasilkan satu tatanan dunia baru, maka hanya Indoensia, satu-satunya negara besar di planet ini yang akan memperebutkan Timor Leste dengan China. Kenapa harus dengan China? Karena hutang Timor Leste ke China saat ini, sudah berada di kisaran Rp 75 triliunan (???). China sejatinya sedang menjebak Timor Leste dengan hutang-hutangnya. Pertanyaannya adalah; “Siapakah yang harus membayar hutang ini? Apakah rakyat Timor Leste berpikir bahwa orang Portugis akan membayarnya?” No way. Portugal adalah salah satu negara termiskin di Eropa. Bagaimana mungkin Portugal yang miskin tapi mengidap sindroma komplexitas superior sebagai ras kaukasian, mau menalangi hutang Timor Leste? Toh, orang Timor Leste tidak terlalu penting bagi bangsa Portugis. Buktinya, selama 460 tahun (1515 – 1975) menjajah rakyat Timor Portugis, sarjana yang dihasilkan tidak lebih dari 5 orang. Ini fakta. Bukan opini.
3.2.5. Timor Leste harus bisa mengantisipasi perubahan berikut. Tatanan dunia baru di masa depan, akan membawa manusia pada tingkat pemikiran yang tidak lagi bertumpu pada isu nasionalisme dan patriotisme. Tatanan dunia baru masa depan akan menghasilkan manusia-manusia yang menemukan diri mereka sebagai orang-orang "stateless". Karena negara tidak lagi hadir dalam hidup mereka. Saat itulah revolusi berpikir baru lahir: "Di mana ada roti, di situlah negaraku".
Jika Indonesia bisa menawarkan roti untuk memperpanjang nafas dan melanjutkan hidup, yang tidak bisa diberikan oleh Timor Leste, haruskah generasi muda mau mendengarkan para pemimpin Timor Leste yang korup dan rakus, yang terus mendengungkan doktrin dan dogma tentang nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, tapi pada saat bersamaan, terus mencuri dan mencuri? Never trust in Xanana and his konco-konco's words. They have sugar on their lips, but venom in their hearts. Xanana dan konco-konconya, hanya memiliki gula di mulut, tetapi menyembunyikan racun di hati mereka. Ini fakta. Bukan opini.
Some people will hate you, not because you are right, but because you are different (Unknown).